Menyiapkan Masa Pensiun Manusia

Tidak bisa dipungkiri, manusia akan merelakan masa depan hidup ini pada robot dalam waktu yang perlahan namun pasti.

Berpijar-dwi-alfian

Saya awali tulisan ini dari mengutip pernyataan Mary Belknap dalam  bukunya Homo Deva (2019): Seperti yang dikatakan beberapa ilmuwan abad ke-20, manusia tidak bisa memecahkan semua masalah yang telah kita buat pada tingkat mental yang sama ketika kita menciptakan masalah tersebut. Kita perlu tumbuh ke tingkat berikutnya, untuk melihat keluar dan melihat solusi yang memungkinan.

Maksud sederhana dari pernyataan tersebut secara konkret ialah bahwa spesies Homo sapiens dirasa sudah tidak mampu menyelesaikan masalah kehidupan yang telah dibuatnya. Saking kompleks dan luasnya masalah kehidupan tersebut (perang, ekonomi, lingkungan, agama, politik, pendidikan, dsb.), Homo sapiens membutuhkan jalan keluar yang jelas, dan jalan keluar yang memungkinkan saat ini adalah menyerahkan masa depan pada spesies berikutnya. Kondisi ini sudah terjadi sejak manusia mengalami evolusinya.

Kita tidak bisa memungkiri kehadiran penerus tersebut. Pada 19 April 2015 lalu, ada robot humanoid yang diaktifkan. Robot itu bernama Sophia. Berdasarkan Wikipedia, robot tersebut dirancang untuk memberikan jawaban berbagai pertanyaan dan telah “diwawancara” di seluruh dunia. Robot yang dirancang David Hanson (Hanson Robotics) itu dirancang untuk lebih pintar dari waktu ke waktu. Jadi, singkatnya, Sopia bisa membenahi kekurangan dalam dirinya (pembelajaran) layaknya manusia.

Program AI (Artificial Intelligence) dan algoritma yang menjadi dasar kerjanya dapat menganalisis percakapan dan mengekstrak data yang memungkinkannya memperbaiki tanggapan masa depan. Sophia memang dirancang untuk pijakan awal spesies baru setelah Homo sapiens. Kita boleh bertepuk tangan atas pencapaian teknologi ini dan kita juga boleh cemas atas pencapaian itu. Yang jelas, tanpa disadari kitalah sekarang yang mendukung lahirnya saudara baru kita tersebut.

Dengan adanya cloud, kita tidak bisa memungkiri adanya hal di atas. Setelah menjadi perangkat berjaringan, senantiasa terhubung dengan cloud, kini robot bisa menggabungkan pengalaman robot lain yang sejenis dengan mereka. Dengan kata lain, terjadilah akselerasi “pembelajaran”.

Bayangkanlah lompatan kuantum yang akan terjadi dalam kultur manusia jika kita mendadak memiliki sambungan langsung ke pengetahuan dan pengalaman orang lain di planet ini. Tapi, sayangnya untuk mendapat hal luar biasa tersebut manusia tidak bisa melakukannya sendiri. Hanya robot yang memungkinkan bisa melakukannya. Atau mungkin manusia setengah robot juga bisa.

Pandangan Barat dan Timur

Secara singkat, ada pandangan yang menyatakan bahwa robot jelas akan melampaui kita. Pandangan lain mengatakan bahwa robot tidak mungkin bersaing dengan kita. Ada pula yang menyimpulkan bahwa  manusia dan mesin bisa bersatu. Begitulah orang Barat dan Timur memercayai kehadiran robot.

Misalnya, warga Jepang memandang benda mati maupun  manusia yang hidup memiliki roh (animisme). Oleh karena itu, kultur Jepang cenderung lebih menerima mitra robot sebagai mitra aktual ketimbang kultur Barat yang memandang robot sebagai mesin tak bernyawa. Dalam kultur animisme, robot bisa dianggap sebagai anggota masyarakat. Alih-alih sekadar alat atau ancaman bagi mereka.

Sebaliknya, ketakutan terhadap robotik bercokol kuat dalam kultur Barat. Ancaman di balik penciptaan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan cukup kental dalam budaya Barat. Itu sebabnya, film Frankenstein, Transformers, Terminator, dan sebagainya hadir dalam pola fiksi (imajinasi) mereka.

Data statistik dari International Federation of Robotics menunjukkan Korea Selatan menjadi negara yang menggunakan robot pekerja terbanyak di dunia. Pada 2017, jumlah robot yang digunakan di industri manufaktur Korsel mencapai 710 unit per 10 ribu pekerja. Lalu disusul Singapura (658 unit), Jerman (322 unit), Jepang (302 unit), Denmark (230 unit), AS (200 unit), Italia (190 unit), Belanda (172 unit), Kanada (161 unit), Spanyol (157 unit), Finlandia (139 unit), Prancis (137 unit), Swiss (129 unit), dan China (97 unit).

Dari data di atas, terlihat jelas bahwa sumbangsih Timur walau hanya tiga negara (Korsel, Singapura, dan Jepang) mampu mengimbangi Barat yang terdiri dari 11 negara. Itu menandakan bahwa masyarakat Timur (Asia), khususnya yang tersebut di atas lebih meyakini kehadiran robot. Seiring penyebaran robot tersebut, tetap saja, tingkat kesuksesan negara dalam segi robot akan bergantung pada budaya-kesiapan orang mau menerima masuknya robot ke  dalam kehidupan mereka.

Orang Eropa menganggap robot sebagai mesin, sedangkan orang Asia memandangnya sebagai teman potensial. Kombinasi faktor  budaya, demografis, dan teknologi mengisyaratkan bahwa kita akan melihat dunia penuh robot untuk pertama kalinya.

Digitalisasi (bahan baku robot) dan kita adalah hewan lab

Media sosial, siapa yang tidak mengenalnya. Pertanyaan itu nyaris menggelikan bila dijawab. Binatang pun bisa eksis di sana, bahkan mampu menyedot perhatian. Hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, bisa hadir dengan mudahnya, berganti, berkembang, dan bermamah biak. Hampir semua objek di dunia ini nampaknya perlahan sudah masuk ke dunia itu (digitalisasi). Jaron Lanier menyebutnya “laboratorium”. Hal itu dikarenakan menurutnya, di balik media sosial ada ilmuwan gila yang menelitinya.

Media sosial juga merupakan sesuatu yang sepenuhnya baru sedang terjadi di dunia. Jaron Lanier menyatakan, melalui media sosial kita dipantau dan diukur secara konstan dan menerima umpan balik yang telah direkayasa setiap waktu. Kita diberi kebebasan sekaligus dikuasai. Sedikit demi sedikit namun pasti, kita dihipnotis oleh teknisi yang tidak dapat kita lihat (dalam hal ini saya lebih suka menyebutnya logaritma), untuk tujuan yang tidak kita ketahui. Sekarang ini, tidak bisa dipungkiri kita semua adalah hewan lab.

Kita mengunggah identitas kita secara sporadis di sana. Baik identitas tubuh ataupun jiwa. Kita memberikannya secara percuma dan sukarela, bahkan penuh keriangan, dan bahagia. Lebih tepatnya, kita sedang membantu ilmuwan gila mengumpulkan data lalu menghimpunnya untuk penelitiannya (menciptakan robot). Tapi, sekalipun itu berlangsung secara sukarela dan riang gembira, di dunia ini tidak ada yang benar-benar gratis dan percuma. Dalam jagat media sosial, perusahaan layanan media sosial memberikan banyak hal kepada penggunanya, tetapi juga mengambil banyak hal: privasi, kebebasan, dan kedaulatan.

Makin banyak waktu yang kita gunakan untuk mengakses media baru itu (medsos, mesin pencari, e-commerce, dan platform lainnya) makin banyak hal tentang diri kita yang terpantau dan terekam oleh perusahaan media baru tersebut (ilmuwan gila). Data ini ibaratnya bahan baku untuk membuat algoritma yang makin andal (robot) dengan kecerdasan buatan (AI) yang makin mendekati kecerdasan manusia. Itulah modal awal dirancangnya Sophia dan penerusnya kelak.

Semua yang ada di internet saat ini bukan fenomena digitalisasi semata melainkan juga fenomena yang mampu mengubah masyarakat, tatanan sosial, budaya, hingga manusia itu sendiri. Berdasarkan pengumpulan data yang berlimpah ruah tersebutlah (mahadata), ilmuwan gila akan membuat logaritma yang luar biasa, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya (singularitas). Menilik hal tersebut, tidak mustahil bila saudara kita (robot) bakal lahir dalam waktu dekat. Lalu, kita akan membantu proses persalinannya dengan selamat.

Kiamat (dalam tanda kutip)

Ramalan kiamat tidak pernah selesai diperbincangkan. Dia selalu hadir pada setiap waktu, melalui caranya masing-masing. Semua meyakini, kiamat itu pasti terjadi. Saat manusia sudah menyerahkan estafet kehidupan ini pada robot, mungkin saat itulah “kiamat” (menurut saya) sedang terjadi. Apa manusia menerimanya?

Manusia tidak bisa menyangkal fenomena digitalisasi tersebut (revolusi industri 4.0). Yang bisa dilakukan manusia hanya hardikan, mencegahnya pun, tidak. Tidak bisa dipungkiri, manusia akan merelakan masa depan hidup ini pada robot dalam waktu yang perlahan namun pasti.

Robot humanoid generasi pertama telah lahir (Sophia), dia akan berkembang dan bertumbuh lebih cepat dan hebat ketimbang pembuatnya sendiri. Pernyataan bahwa manusia akan tetap menjadi penguasa atas itu merupakan hiburan semata alias ilusi. Masalah di masa depan, jelas tidak bisa manusia selesaikan, hanya robot yang memungkinkan bisa menyelesaikannya. Kembali ke pernyataan awal pada tulisan ini, kita tidak bisa menyelesaikan masalah yang kita buat pada tahap mental yang sama. Hadirnya robot memungkinkan penyelesaian masalah kita.

Lalu, pada akhirnya kita akan dihadapkan pada pertanyaan yang menggelikan. Apa kita bisa menerima pernyataan, bahwa hadirnya robot juga merupakan sebuah ketetapan Sang Pencipta? Tapi yang jelas dan pasti, jika komputasi ditambahkan dengan kemajuan pesat pembelajaran mesin, analisis data, dan robot cloud, maka sistem komputasi tersebut akan terus berkembang pesat. Manusia hanya tinggal menunggu antrian kapan mereka pensiun.*