Menggugat Filsafat sebagai Anak Tiri dari Pendidikan Modern

Dalam situasi pendidikan kita sekarang yang lebih ditekankan adalah kemampuan menguasai segala aspek bukan pada spesialisasi individu.

Berpijar-andyan

Kecerdasan ditambah dengan karakter merupakan tujuan dari pendidikan sejati.”  

Martin Luther King

Pada era modern seperti sekarang ini berbagai permasalahan kerap kali kita temui, tidak jarang permasalahan tersebut bertumpuk-tumpuk dan sifatnya sangat kompleks. Termasuk juga dalam upaya membangun bangsa Indonesia (nation building) dan juga membangun karakter bangsa (character building). Segala cara sudah diupayakan pemerintah dari mulai mengganti kurikulum pendidikan, peningkatan mutu guru, pemberian dana BOS, peningkatan sarana dan prasarana, dan yang terbaru adalah pemberlakuan sistem zonasi. Semua itu dilakukan pemerintah demi memajukan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia. Namun, apakah hal itu semua cukup efektif dalam membentuk kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia? 

Sebelum kita menjawab persoalan tersebut ada baiknya kita melihat lebih dulu apa yang yang menjadi tantangan bangsa Indonesia di masa depan. Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah pentingnya pendidikan karakter untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 sesuai misi Presiden Jokowi. Namun, pembentukan karakter tidak semudah membalikan telapak tangan, pembentukan karakter dimulai sejak anak usia dini. Banyak aspek yang dilibatkan dalam pembentukan karakter generasi bangsa baik itu aspek sosiologis, psikologis dan historis. 

Dalam studi-studi psikoanalisis juga disebutkan tahapan-tahapan pendidikan anak yang harus dipahami orang tua dan juga guru. Perlunya membaca kembali akar sejarah Ilmu pengetahuan adalah supaya pendidikan di Indonesia tidak terombang-ambing arahnya. Filsafat adalah ibu dari segala macam ilmu pengetahuan yang berkembang. Membentuk generasi emas memerlukan pendidikan yang mencakup segala macam aspek, sebagai jawaban atas tuntutan zaman. Dari sinilah filsafat memiliki peran dalam membentuk fondasi berpikir tidak hanya kritis tetapi juga terstruktur dan sistematis.

Ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat yang kemudian beriringan dengan teknologi, keduanya seperti rel kereta yang saling berhadapan dan tak terpisah. Dari sejarahnya ilmu pengetahuan awal terbentuknya adalah dari dua cabang utama filsafat yakni: filsafat alam dan filsafat sosial. Filsafat alam berkembang kemudian menjadi sub-sub ilmu pengetahuan yang lebih spesifik seperti kimia, fisika, biologi. Filsafat sosial pun juga demikian mulai dari etika, estetika, logika. Yang kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu politik, sosiologi, antropologi, sejarah, administrasi, ilmu hukum, dll. 

Kemudian filsafat dalam perjalanannya terbagi menjadi dua aliran besar, yakni rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme adalah aliran filsafat yang melihat segala sesuatu didasarkan pada rasionya sebagai kebenaran tertinggi. Sementara empirisme melihat segala sesuatu harus bisa dibuktikan dengan fakta agar mendapat suatu kebenaran. Perdebatan panjang ini tidak ada ujungnya sampai Immanuel Kant menengahi keduanya dengan melihat batas-batas dari kedua instrumen tersebut yakni rasio yang memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri dan indera juga demikian, yang kemudian filsafatnya dikenal dengan filsafat kritisisme. 

Pada era modern hari ini kata filsafat sendiri seperti asing atau bahkan aneh, bahkan tidak jarang remaja hari ini menstigmakan filsafat adalah aliran sesat, atheis, tidak berbudaya. Sama halnya ketika Nabi Muhammad menyebarkan ajaran Islam pada awal periode yang terasa asing dan aneh, bahkan dinilai menyimpang dari ajaran leluhurnya. Berbagai stigma negatif yang diberikan kepada filsafat ini adalah hasil dari kurikulum pendidikan yang masih rancu. Tidak adanya kondisi yang jelas dalam membangun kerangka berpikir dan mewujudkan visi misi berpikir kritis adalah sebab mengapa filsafat masih menjadi anak tiri. 

Dalam situasi pendidikan kita sekarang yang lebih ditekankan adalah kemampuan menguasai segala aspek bukan pada spesialisasi individu. Padahal jika kita melihat realitas tidak ada profesi, spesialisasi adalah hal yang istimewa orang bisa memperoleh posisi yang bagus dalam suatu instansi dengan keahlian tertentu di bidangnya. Hal ini merupakan paradoks yang terjadi dalam suatu tatanan kehidupan. Dalam kurikulum pendidikan siswa tidak pernah diajarkan tau asal muasal ilmu, bagaimana ilmu itu berakar dan percabangannya melainkan hanya dijejali pelajaran yang mereka sendiri tidak tahu maknanya. Sehingga tradisi berpikir yang dilakukan bukan mengabstraksikan ilmu melainkan hanya menghafalkan saja. Akhirnya kita hanya menimbun pengetahuan dan tidak tahu memproyeksikannya bagaimana. 

Kemudian poin yang menjadi sorotan adalah sering tidak disadari bahwa kita terjebak pada pola sesat pikir (logical fallacy), sesat pikir yang paling sering dijumpai adalah menggeneralisir segala sesuatu. Sebagai contohnya adalah ketika seorang murid tidak pandai dalam matematika maka persepsi guru yang diberikan kepada murid itu adalah bodoh karena adanya keyakinan bahwa, semua orang yang bisa matematika pasti orang itu cerdas. Padahal jika kita melihat dimensi kecerdasan itu ada banyak seperti yang diungkapkan Howard Gardner, yakni ada kecerdasan visual, musikal, verbal, matematis, spasial, eksistensial, interpersonal, kinestetik yang kemudian ini dinamakan kecerdasan majemuk. 

Pola-pola berpikir kritis analitis tidak pernah diajarkan pada bangku sekolahan karena filsafat tidak masuk dalam kurikulum sekolah. Padahal pelajaran semacam ini perlu sehingga kita tidak hanya menilai segala sesuatu hitam dan putih saja, namun ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan suatu perkara. Filsafat berusaha menjawab hal itu dengan metodenya yang meragukan, mempertanyakan, mencari sampai ke inti atau hakikatnya sehingga ada kejelasan ilmu sebagai lahan yang objektif.*

1 comment on “Menggugat Filsafat sebagai Anak Tiri dari Pendidikan Modern

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *