Masa Depan Privasi dalam Pelukan Kapitalis

Free Service for free data. Layanan digital gratis dibarter dengan data perilaku pengguna internet yang gratis pula.

Berpijar-dwi-alfian

Dalam era digitalisasi, segala bentuk aktivitas, transaksi, dan komunikasi berbasis online selalu membutuhkan akun. Hal itu menjadi ancaman serius atas hal yang disebut privasi.  Bukan lagi masalah personal yang berharga dan intim, privasi berubah menjadi komoditas massal dan juga bahan baku algoritma perusahaan kapitalis.

Privasi yang biasa disebut kerahasiaan pribadi adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk menutup atau melindungi kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Sekarang, hal itu sedang keluar dari ruang maknanya sendiri. Privasi bukan lagi suatu hal yang benar-benar rahasia dan personal. Tanpa disadari, kita sedang menjualnya.

Mungkin, dalam jangkauan masa depan, psikolog hanya perlu akun media sosial Anda saat menjalankan pekerjaannya. Para HRD juga demikian, hanya perlu mengunjungi akun media sosial para pelamar kerja. Bukan tanpa sebab, akun media sosial menjadi ladang bagi orang yang ingin atau membutuhkan hal yang dinamakan privasi.

Khususnya dalam media sosial, privasi benar-benar ditelanjangi. Sekalipun media sosial merupakan dunia yang penuh kepalsuan, keasikan, kebanalan, dan kerancuan, privasi telah berhasil menjelma sebagai bahan bakar keuntungan. Ia bertransformasi ke bentuk algoritma perilaku. Yang paling mencolok atas perubahan itu terjadi di dunia industri online, e-commerce, dan platform lainnya.

Hampir semua jejaring internet menjual privasi dalam kemasan algoritma yang sedemikian rupa. Ada pergeseran metode dagang di era digital. Dulu, para penjual (kapitalis) mempromosikan dagangannya seluas dan sebanyak mungkin. Iklan disebar ke mana-mana, tanpa tahu siapa saja yang berminat membeli (jangkauan pasar menjadi prioritas). Tetapi sekarang, ruang lingkup pasar diperkecil, namun terarah dan efektif. Bukan lagi masalah sebanyak apa iklan disebar, melainkan seberapa efektif dan tepat sasaran iklan itu dibuat. 

Apa yang sering Anda kunjungi, sukai, dan cari, dijadikan sebuah pedoman memahami kebutuhan psikologis Anda. Perilaku Anda di dunia maya direkam lalu diubah menjadi algoritma yang ketat. Di sanalah privasi benar-benar bekerja sesuai dengan harapan kapitalis. Bila Anda sering menyukai kebutuhan furniture, iklan yang sering lewat di media sosial Anda secara otomatis adalah aneka ragam furnitur itu sendiri. Karena logaritma telah menangkap aktivitas psikologis Anda selama berselancar di dunia maya, dsb. Begitulah cara kerja jangkauan pasar digital.

Tidak benar-benar ada yang gratis di dunia ini. Begitulah ungkapan yang pas atas keadaan tersebut. Oksigen dirasa gratis, tapi Tuhan menuntutmu agar berbuat kebajikan. Begitupun dengan mesin pencari, media sosial, e-commerce, dan platform lainnya. Mereka memberi keasikan, hiburan, kehadiran, citra, informasi, kedudukan, kepopuleran, hingga pekerjaan, tapi di satu sisi mereka merenggut hal intim dari hidup Anda (privasi).

Free Service for free data. Layanan digital gratis dibarter dengan data perilaku pengguna internet yang gratis pula. Mulanya data perilaku pengguna (privasi) itu hanyalah sampah sebelum akhirnya diubah menjadi ladang emas dengan teknologi big data. Iklan digital tertarget dan pengembangan AI (artificial intelligence) merupakan buah dari pemanfaatan sampah tersebut.

Tidak berlebihan rasanya bila teknologi big data menjadikan kita sebagai hewan lab. Apa yang ada dalam diri kita dieksploitasi hingga sarinya. Mulai dari konten apa saja yang Anda sukai, kata kunci apa saja yang sering Anda ketik, tagar apa saja yang sering Anda gunakan, hingga seberapa sering Anda mengunjungi laman porno. Semua itu terekam dan terolah dengan jelas, cermat, dan tepat oleh big data.

Dari hal tersebutlah kita harus mulai bertanya, ke mana arah tujuan semua ini?

The Circle, Dave Eggers

Menilik persoalan di atas, agaknya novel The Circle Dave Eggers bisa jadi abstraksi yang pas. Novel tersebut menjelaskan bagaimana pembebasan dan penguasaan berjalan berdampingan dan saling menguatkan. Kita merasa telah memperoleh kebebasan kita, tapi di satu sisi penguasaan atas itu sedang berlangsung dengan ritme yang lebih cepat. 

Seperti 1984 (Big Brother is Watching You) karya George Orwel, kisah menegangkan tentang ingatan, sejarah, demokrasi, privasi, serta batas pengetahuan manusia disajikan. Begitupula The Circle yang disebut generasi baru 1984 dan Brave New World ini.

Diceritakan, The Circle merupakan perusahaan internet dan teknologi paling berkuasa di dunia. Mereka menyatukan akun penggunanya dengan surel pribadi, media sosial, internet banking, dan lainnya ke dalam sistem operasi tunggal mereka. Sehingga, satu pengguna hanya memiliki satu identitas dan satu akun universal. Singkatnya, The Circle merevolusi transparansi dunia digital.

Konsep tersebut menyiratkan bahwa The Circle ingin masuk sepenuhnya ke semua aspek kehidupan manusia. Mereka berambisi mengawasi setiap langkah, merekam setiap percakapan, dan meneliti seluruh gerak-gerik manusia. 

Bagi cerita novel tersebut, rahasia  ialah sumber masalah. Dan privasi ialah rahasia itu sendiri. Jadi logisnya, privasi harus dibuka, biar sumber masalah itu terselesaikan. Ia ingin membobol batas dinding privasi yang selama ini menjadi hal intim dan personal. Begitulah konsep cerita The Circle.

Diyakini atau pun tidak, konsep tersebut (dikisahkan dalam novel) mampu menyelesaikan segala bentuk kejahatan dan membuat hidup lebih bermoral. Dinyatakan dengan jelas, siapa yang akan melakukan hal tidak etis atau amoral atau ilegal jika mereka diawasi dan diamati? Dan kini, kita sedang mengadaptasi (konsep fiksi tersebut) ke dunia nyata. Teknologi big data akan membantu semuanya.

Menilik hal tersebut, pernyataan bahwa kita sebenarnya hewan lab tidaklah berlebihan. Apalagi Indonesia juga salah satu negara dengan pengguna Internet terbanyak. Jadi, data kita (privasi) pada akhirnya telah menjadi bahan baku untuk menciptakan The Circle tersebut. Kita membantu dengan sadar proses persalinan dunia yang dimana pembebasan dan penguasaan berjalan bergandengan.

Bila The Circle akan terwujud pada akhirnya, ruang dan sekat lainnya antara manusia dan objek lainnya termasuk manusia itu sendiri akan hilang. Bergantilah transparansi tunggal yang utuh. Saat hal itu terjadi, persis seperti apa yang dikatakan oleh John Steinbeck, masa depan sama sekali tak berbatas, tak bersekat. Begitulah sehingga manusia tak akan memiliki ruang untuk menyimpan kebahagiaannya. Karena pada akhirnya, semuanya sedang kita pertontonkan tanpa sisa.

Kita akan melihat bagaimana dunia ini perlahan berubah menjadi tiran yang mengontrol penuh hak dan kebebasan manusia. Lalu pemilik utama teknologi itu secara pasti ialah para kapitalis. Orang tanpa modal, hanya menjadi bahan bakar atas semua itu, yang pada akhirnya hanya jadi butiran arang dan debu. Lalu semuanya menjadi benar bahwa kita semua ialah orang yang hidup di negara yang sama, yakni kapitalis. Dan secepatnya kita juga akan tahu, di dunia yang telah terintegrasi dengan The Circle; privasi, rahasia, serta identitas anonim adalah kejahatan berat.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *