Corona, Kejahatan, dan Mentalitas Korban

Dua perhatian penting terkait dampak corona dalam artikel ini: meningkatnya kriminalitas dan PHK pegawai, terutama bagi buruh kontrak.

Berpijar-edwin

Virus corona atau Covid-19 telah membawa banyak bencana yang mengerikan bagi dunia. Di Indonesia sendiri, virus corona telah merenggut banyak nyawa. Sejak awal kemunculannya dua bulan lalu, virus corona telah merenggut 973 nyawa dengan lebih dari 12.000 kasus positif. Sebaran yang cepat ini memaksa World Health Organization atau WHO menetapkan virus corona sebagai pandemi internasional. 

Pandemi sendiri dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana sebagian atau seluruh populasi di dunia memiliki kemungkinan terinfeksi virus endemik, virus yang memiliki kemampuan menular dengan cepat. WHO juga menyarankan kepada berbagai negara untuk melakukan lockdown atau karantina wilayah untuk mencegah penyebaran virus corona

Tidak hanya menyebabkan banyak kematian, virus corona juga meningkatkan jumlah kasus kejahatan (kriminalitas). Karopenmas Mabes Polri, Brigjen. Pol. Argo Yuwono menyatakan bahwa terjadi peningkatan kriminalitas sebesar 19,72 persen dari masa sebelum pandemi. Bentuk kejahatan yang paling sering terjadi adalah pencurian, penjambretan dan perampokan minimarket. Kejahatan ini kebanyakan dilakukan oleh orang-orang yang terdampak secara ekonomi oleh virus corona. Misalnya, para napi yang baru dibebaskan dan buruh yang mengalami pemecatan.

Baca juga

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 10 Tahun 2020 memutuskan untuk memberikan asimilasi dan hak integrasi berupa pembebasan bersyarat bagi lebih dari 30.000 narapidana. Meski mendapat banyak kritikan dan meresahkan masyarakat, kebijakan ini tetap dijalankan. Pemerintah berdalih bahwa pembebasan ini merupakan langkah untuk mencegahan dan menanggulangi penyebaran Covid-19. 

Namun, sayangnya niat baik pemerintah ini malah disalah artikan para napi. Banyak napi yang malah mencuri lagi usai diberi kebebasan. Para napi ini mengaku bahwa mereka terpaksa mencuri. Mereka menyalahkan virus corona menyebabkan lapangan kerja menjadi sepi.

Permasalahan yang sama juga dialami para pekerja. Banyak dari mereka (pekerja) yang juga terpaksa untuk mencuri karena corona. Wabah corona menyebabkan banyak perusahaan memutuskan untuk meliburkan (PHK) pegawai mereka. Keputusan ini diambil karena kebanyakan perusahaan sudah tidak lagi mampu menggaji karyawan mereka. 

Keuntungan yang semakin menipis memaksa mereka melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk menekan biaya produksi. Namun, sayangnya banyak pegawai yang tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi pemecatan ini, salah satu contohnya adalah buruh kontrak. 

Berbeda dengan buruh tetap, mereka (buruh kontrak) tidak digaji sesuai standar upah minimum regional (UMR). Mereka (pegawai kontrak) juga tidak menerima pesangon saat dipecat. Para buruh kontrak ini kemungkinan juga tidak memiliki tabungan, sebab gaji bulanan mereka hanya cukup atau bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. 

Kedua contoh di atas menunjukan bahwa corona tidak hanya memberikan dampak biologis (penyakit) bagi manusia. Perubahan psikologi karena desakan ekonomi pun juga banyak terjadi. 

Dalam kajian psikoanalisis, Freud pernah menjelaskan bahwa kejahatan berhubungan erat dengan prinsip “kesenangan.” Manusia pada dasarnya hidup untuk meraih kepuasan (kesenangan). Kebutuhan untuk meraih kepuasaan ini disebut sebagai “id.” Id mengelola segala jenis keinginan dan hasrat seseorang, baik itu kebutuhan biologis (makan dan minum) maupun hasrat psikologis (cinta dan kasih). 

Kemudian ada ego, komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani realitas. Ego bekerja untuk memenuhi kebutuhan id. Ego juga menyaring dorongan-dorongan id berdasarkan kenyataan. 

Terakhir ada superego yang berhubungan erat dengan nilai dan norma. Perlu dipahami bahwa superego bukanlah nilai dan norma itu sendiri. Superego adalah pedoman untuk membuat penilaian tentang baik buruknya suatu hal. Bersama dengan ego, superego mengatur dan mengarahkan pemenuhan id berdasarkan aturan-aturan yang benar dalam masyarakat.

Lantas, mengapa seseorang bisa melakukan kejahatan saat hasrat mereka telah dikontrol oleh ego dan superego? Freud pernah menjelaskan bahwa id itu bersifat memaksa (harus dipenuhi). Artinya, jika id tidak bisa dipenuhi secara legal atau sesuai dengan aturan sosial, maka orang secara naluriah akan mencoba untuk memenuhinya secara ilegal. 

Ego yang tidak mampu menjembatani kebutuhan id akan menjadi lemah dan membuat manusia rentan melakukan penyimpangan. Secara garis besar kesulitan ego dalam menjembatani kebutuhan id disebabkan karena dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berhubungan dengan diri seseorang (kemampuan dan kepribadian) sedangkan faktor eksternal berkaitan dengan kondisi lingkungan. 

Virus corona dapat dinilai sebagai faktor eksternal maupun internal. Dalam pandangan eksternal, virus corona dinilai berhasil mempengaruhi lingkungan karena telah merusak tatanan ekonomi. Memang tak bisa dipungkiri bahwa virus ini berhasil membuat banyak orang menjadi pengangguran. Tanpa adanya pekerjaan (gaji), orang-orang akan kesulitan memenuhi kebutuhannya (id). Tidak terpenuhinya kebutuhan kemudian memaksa seseorang untuk melakukan tindakan ilegal. Hipotesis ini terbukti dari banyaknya pelaku kejahatan yang mengaku bahwa alasan mereka mencuri adalah kebutuhan ekonomi. Para pelaku terpaksa mencuri karena tidak memiliki pekerjaan lagi. 

Baca juga

Sedangkan dalam pandangan faktor internal, virus corona dinilai telah berhasil memberikan perubahan psikologis pada banyak orang. Perubahan psikologis yang dimaksud disini adalah timbulnya mentalitas korban pada banyak orang. 

Mentalitas korban adalah kondisi di mana seseorang terbiasa untuk menyalahkan keadaan daripada berintrospeksi diri terlebih dahulu. Misalnya, para pekerja yang menyalahkan virus corona saat mereka dipecat, menyalahkan perusahaan yang tidak mampu menganji mereka lagi, dan menyalahkan pemerintah yang tidak memberikan bantuan sosial. Mereka merasa wajar untuk melakukan tindakan kejahatan karena adanya paksaan keadaan. 

Mentalitas korban umumnya terbentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil, Ia terbentuk dari keseharian kita. Kita biarkan, kita biasakan, dan tidak kita anggap sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan sering kali kita nikmati. Oleh karena itu, banyak yang tak sadar bahwa ia mengidap mentalitas ini. Misalnya, ketika seseorang dimarahi atasan, biasanya dia akan menceritakannya kepada temannya. Tentu saja dia akan bercerita menggunakan perspektif korban. Orang yang mendengar ceritanya, yang seorang korban juga, akan membenarkan cerita tersebut. Dengan cara itu kedua pihak akan membangun mental korban dalam diri masing-masing.

Pada akhirnya, penyebab kejahatan menjadi sesuatu yang pelik. Di satu sisi mungkin disebabkan kebutuhan (id), tapi disisi lain juga mungkin disebabkan kelemahan mental (mentalitas korban). Namun, apapun kondisinya kejahatan tetap lah sesuatu yang ilegal. 

Penulis percaya dan yakin pada potensi manusia. Manusia tidak akan semudah itu diperdaya oleh virus. Berhenti lah menyalahkan keadaan dan berpegang teguh lah pada pendirianmu, niscaya sesuatu yang baik akan datang nantinya. Let your attitude change reality, not reality change your attitude.*

Referensi 

Davies, G., Hollin, C., & Bull, R. (2008). Forensic Psychology. John Wiley; Sussex.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *