Memahami Kapitalisme dan Krisis Internal di Dalamnya

Perpaduan antara krisis kesehatan dengan krisis ekonomi dan keuangan akan memberikan tekanan besar pada masyarakat global.

Ifan Fadillah-Berpijar

Akhir-akhir ini umat manusia dibuat menjadi tidak berdaya dengan kehadiran organisme kecil yang tak kasat mata, dalam ilmu medis dikenal dengan nama Novel Coronavirus  (2019-nCoV), selanjutnya World Health Organization memberi nama virus baru tersebut Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dengan nama penyakitnya disebut Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Partikel kecil ini membuat industri bisnis manufaktur dan jasa harus gulung tikar, dan dampak yang paling terasa ialah para pekerja upahan yang menggantungkan keberlanjutan hidupnya pada relasi upahan itu sendiri.

Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020 lalu merilis sebanyak 2,8 juta warga menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan akibat pandemi Covid-19, sementara Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang UMKM, Suryani Motik menyebut warga yang menjadi korban PHK akibat pandemi bisa mencapai 15 juta jiwa. 

Memahami Kapitalisme dan Cara Kerjanya 

Sejak saat itulah banyak yang ingin mencari tahu mengapa bisa kelas pekerja menjadi kelas yang rentan dalam relasi upahan. Jawabannya pun bisa didapatkan dengan analisis struktural bahwa ini terjadi karena corak produksi kapitalistik yang kian dominan menjadi satu-satunya corak produksi yang dijalankan di seluruh penjuru dunia dan sudah ada sejak lebih 300 tahun yang lalu. 

Belum lagi persoalan krisis lingkungan yang terjadi akibat eksploitasi sumber daya alam yang kian marak dan menjadi nafas kapitalisme dalam upaya terus menerus mengekspansi ruang-ruang baru yang menjadi cikal bakal akumulasi keuntungan. Begitu juga asal muasal Novel Coronavirus. Peneliti mikrobiologi dari LIPI, Sugiyono Saputra, mengatakan, “Sebagian besar penyakit timbul karena masalah lingkungan. Kemudian, 60 persen penyakit infeksi merupakan penyakit zoonosis atau berasal dari hewan dan lebih dari dua per tiga berasal dari satwa liar. Berdasarkan hasil analisis berbagai penelitian, sejumlah penyakit baru yang muncul ternyata dikontribusikan oleh aktivitas yang dilakukan manusia itu sendiri terhadap alam, terutama perambahan ke kawasan liar seperti hutan dan perubahan dalam demografi manusia,” jelasnya.  “Terkait Covid-19, memang butuh kajian yang mendalam lagi untuk menyimpulkan apa sebenarnya yang memicu kemunculan penyakit tersebut. Sementara ini disebabkan dari kelelawar dan/atau trenggiling, yang merupakan salah satu komoditas yang diperjualbelikan secara ilegal dan menjadi obat sehingga berkontribusi pada tumpahnya virus ke populasi manusia,” ujarnya. 

Seperti yang juga dikatakan Matt Huber (2020) yang mengafirmasi pendapat Rob Wallace bahwa  penularan virus berasal dari ulah manusia menebang habis hutan liar dan menjadi reservoir virus itu sendiri. Lalu menggantikannya dengan ekologi perkebunan homogen seperti minyak sawit dan operasi ternak dari hewan yang berkerumunan bersama.

Dalam paparan di atas, penting untuk melihat dialektika antara manusia dan Alam, Meminjam analisis Foster (2018), dijelaskan Marx dalam kemiskinan filsafat dan di Grundrisse bahwa semua masyarakat manusia bersandar dari perampasan bebas atas alam, yang merupakan dasar material dari kerja dan produksi, bahwa tidak akan ada keberadaan manusia tanpa perampasan alam, tanpa produksi dan tanpa properti. Dalam pengertian itulah suatu tautologi dengan mengatakan bahwa properti (apropriasi) adalah prasyarat produksi. 

Disinilah pentingnya membedakan antara apropriasi dan ekspropriasi, menurut Marx apropriasi dalam berbagai bentuknya merupakan basis universal bagi masyarakat dan kehidupan itu sendiri, maka mengatakan kepemilikan secara umum adalah pencurian terlepas dari bentuk kepemilikan partikelir adalah jalan buntu bagi gerakan revolusioner. Demikian pula halnya dengan manusia sebagai makhluk materiil dan objektif tidak dapat melepaskan dirinya dari apropriasi terhadap alam, yakni dari properti kepemilikan dalam segala bentuknya yang bervariasi yang merupakan kondisi objektif dari keberadaan mereka. Namun, yang mungkin adalah pembebasan revolusioner umat manusia dari bentuk-bentuk metabolisme sosial manusia dengan alam yang lebih teralienasi. 

Proses itu lah yang bisa dibaca dengan metode Materialisme Historis juga dapat dijelaskan satu hal bahwa ada hubungan saling mengkondisikan antara Alam dan Manusia, walaupun ada perbedaan dimana Alam mengkondisikan secara absolut manusia, dimana bisa dimaknai bahwa Alam adalah prakondisi material sebelum adanya manusia, dan manusia bisa mengkondisikan alam walaupun hanya secara relatif, dimaknai sebagai manusia bisa mengkondisikan alam sejauh batas-batas alam itu sendiri. 

Selain dari dampak sistem kapitalisme terhadap alam, dampak yang dihasilkan akibat dominannya corak produksi kapitalistik, sudah pasti juga berada pada arus produksi yaitu relasi eksploitatif antara pemilik sarana produksi dan tenaga kerja yang tidak mempunyai apa-apa selain keahlian dari kerjanya. Ini berbeda dari corak masyarakat yang lain, misalnya corak masyarakat feodal, petani hamba menggunakan sebagian hari dalam seminggu untuk bekerja di tanah mereka sendiri demi subsistensi mereka, dan sebagian hari lain dalam seminggu di tanah bangsawan untuk membekali konsumsi bangsawan dan pasukannya.

Dari sudut pandang materialisme historis, kapitalisme adalah masyarakat berkelas di mana institusi kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan kerja upahan bebas adalah cara melalui di mana para kapitalis mengambil nilai lebih yang diciptakan pekerja yang memproduksi komoditas (atau jasa) yang menerima upah, nilai lebih itulah yang disebut dengan eksploitasi atau dalam pemikiran  Marx, hidup dari hasil kerja orang lain.

Dalam pembacaan dengan metode materialisme historis inilah juga diketahui bahwa sistem kapitalisme hanyalah salah satu corak produksi dalam epos sejarah saat ini dengan telah terpenuhinya syarat atau prakondisi materialnya sehingga dapat menggantikan corak masyarakat feodal sebelumnya. Salah satu ciri khas dari corak produksi kapitalistik adalah sirkulasi kapital, meminjam pendapat Ben Fine dan Alfredo Filho dalam Menjelaskan sirkulasi kapital dan bentuk eksploitasi yang dihasilkan.

Figure of capitalist exchange
Grafik: Pertukaran kapitalis – membeli dengan tujuan menjual lebih mahal (Sumber: Ben Fine dan Alfredo Saad-Filho. (2004). Marx’s Capital (4th ed). London: Pluto Press. Hlm. 35)

Ben Fine dan Alfredo filho menjelaskan bahwa di bawah kapitalisme, pertukaran komoditas sederhana dapat dimulai dengan pekerja dan pemilik sarana produksi. Bagi pekerja, satu-satunya komoditas yang tersedia untuk dijual adalah tenaga kerjanya dan ini ditukar dengan upah. Perlu diketahui bahwa sirkulasi komoditas dalam corak produksi kapitalistik dimulai dari uang dan diakhiri dengan uang, di mana cara berjalannya dimulai dari pembelian dua jenis komoditas. Komoditas itu adalah alat produksi dan tenaga kerja, dan syarat yang diperlukan untuk komoditas tenaga kerja adalah kemauan atau keinginan pihak pekerja untuk menjual tenaga kerja atau hasil curahan kerjanya. Kesediaan tenaga kerja untuk menjual tenaga kerjanya bukanlah murni kebebasannya tetapi sifatnya dipaksakan kepada para pekerja, karena mereka tidak memiliki cara lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi mereka (M-C).

Setelah berkumpulnya alat produksi dan tenaga kerja, para pemilik modal mengatur dan mengawasi proses produksi, dan menjual komoditas dalam mekanisme pasar, dan setelah itu bertransformasi menjadi uang yang punya nilai berbeda dalam bentuk yang sama (M-C-M’). Disinilah bisa dikatakan bahwa satu-satunya tujuan dalam melakukan kegiatan pertukaran secara sistematis adalah untuk mendapatkan nilai lebih (laba dalam bentuk uang), hal ini didapatkan dari kerja yang diperlukan secara sosial yang dilakukan oleh tenaga kerja, karena motif pertukaran adalah untuk memperluas nilai, dimana M’ harus melebihi besar dari pada M sebelumnya di awal.

Pendapat lain juga diutarakan oleh Ellen Wood dengan mengkritik pendapat yang mengatakan bahwa kapitalisme bisa dicirikan dengan perdagangan dan relasi upahan tanpa melihat prakondisi material terwujudnya, ia menjelaskan ciri pokok kapitalisme dengan pendekatan materialisme historis dengan meminjam dua karya ahli sejarah Marxis, yaitu Robert Brenner dan E.P. Thompson. Wood menjelaskan bahwa kapitalisme ditandai dengan karakter hubungan sosial yang memaksa semua pelaku mengalami ketergantungan pada pasar. Semua produksi harus ditujukan untuk pasar dan semua yang terlibat di dalamnya tunduk dalam prinsip persaingan agar bisa bertahan. 

Persoalan lain juga penting dianalisis adalah bagaimana peran negara sangat besar dalam mengatur sistem ekonomi juga politik dalam agenda menyesuaikan kebijakan negara dengan logika pasar, di masa pandemi covid-19 bisa dilihat  negara-negara penganut sistem ekonomi politik neoliberal seperti AS dan indonesia masih terjebak dan berupaya keluar dari krisis ekonomi kapitalisme dan krisis kesehatan, sementara negara-negara yang walaupun tidak sepenuhnya sosialistik tetapi telah menunjukkan arah kolektif komunitarian seperti kuba, bisa mempercepat keluar dari pandemi Covid-19 ini.  

Penjelasan diatas tentang Mekanisme pasar dan Relasi upahan dalam sirkulasi kapital serta bentuk eksploitasi yang dihasilkan dengan memperhatikan prakondisi hadirnya salah satunya keterpaksaan tenaga kerja menjual tenaga kerjanya, serta memperlihatkan perbedaan relasi upahan pada corak produksi masyarakat sebelumnya dianggap penting untuk menjelaskan perihal sistem kapitalisme dengan objektif, dengan tidak hanya mengutuk sistem kapitalisme karena analisis persoalan moral.

Krisis Ekonomi Global

Di tengah krisis ekonomi global yang dihadapi saat ini, bahkan Kenneth Rogoff menyatakan resesi saat ini akan menyaingi bahkan melampaui resesi yang terjadi 150 tahun terakhir. Perpaduan antara krisis kesehatan dengan krisis ekonomi dan keuangan akan memberikan tekanan  besar pada masyarakat global, bahkan ketika pandemi Covid-19 ini berakhir, masyarakat akan dihadapkan pada krisis pekerjaan. 

Dengan melihat bahwa sebelum wabah pandemi Covid-19 ini melanda, di hampir seluruh dunia, sudah terjadi hal-hal yang mengarah ke krisis ekonomi diantaranya hutang perusahaan yang tinggi, ketegangan perdagangan antara pelaku ekonomi utama, juga kesenjangan  dalam pendapatan, kekayaan dan stabilitas pekerjaan di banyak negara.. Ini tidaklah mengherankan karena krisis yang terjadi adalah krisis kapitalisme dan wabah pandemi Covid-19 ini “membantu” kita melihat kebobrokan, kontradiksi, dan membuktikan bahwa kapitalisme bukan corak produksi yang bertujuan menciptakan keadilan sosial terlebih pada dunia ketiga negara berkembang termasuk Indonesia.

Seperti yang dikatakan Joseph Stiglitz bahwa akibat pandemi Covid-19 ini lebih memberikan dampak merusak ketika terjadi di ekonomi negara berkembang dibanding negara maju, ini  dikarenakan masyarakat di negara-negara berkembang yang populasinya lebih besar berpenghasilan rendah akan cenderung hidup lebih dekat satu sama lain yang membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit, juga hal lain persoalan sistem kesehatan di negara berkembang yang kurang siap dalam pengelolaan Covid-19 ini jika dibandingkan dengan negara-negara maju. 

Hal-hal yang dikatakan Stiglitz ini sangat kontekstual dengan apa yang dihadapi oleh Indonesia. Sampai tulisan ini ditulis tercatat kasus positif di indonesia sudah mencapai 28,818 kasus dan sebanyak 1721 meninggal dunia sedangkan untuk skala global angka kematian akibat pandemi Covid-19 ni mencapai 391.179 dengan kasus positif menyentuh angka 6,635.004.

Angka ini jelas cukup tinggi. BBC Visual Journalism menganalisis enam indikator infrastruktur dan sumber daya manusia pada sistem kesehatan di Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, China, dan Singapura. Keenam Indikator itu meliputi jumlah kasur, jumlah kasur darurat (ICU), jumlah dokter, jumlah perawat, deteksi dini, dan pengeluaran kesehatan per kapita. Dari enam indikator itu, Indonesia selalu berada pada posisi terbawah yang menunjukkan ketidakpastian dan kelambanan dalam penanganan Covid-19. 

Kembali dalam persoalan ekonomi, dilansir dari Katadata, International Monetary Fund (IMF) pada Januari lalu masih memperkirakan ekonomi dunia bisa tumbuh hingga 3,3 % pada 2020, tetapi beberapa hari lalu mereka memangkas proyeksi tahun ini hingga minus 3%. Bahkan Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mari Elka Pangestu, mengatakan bahwa krisis yang terjadi saat ini adalah krisis terburuk setelah perang dunia II karena krisis tahun ini adalah krisis yang mengganggu aspek ekonomi, mulai dari permintaan, komoditas, stok, perdagangan, hingga pariwisata.

Walaupun pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan yang merilis skenario pertumbuhan ekonomi 2020 yang masih optimis ekonomi tumbuh positif di tengah kondisi pandemi Covid-19, yang diproyeksikan tumbuh 2,3% dengan rincian pada kuartal I 2020, ekonomi Indonesia masih tumbuh hingga 4,7%. Pada kuartal II 2020 turun hingga menjadi 1,1% dan di kuartal III naik 2,3%.

Tapi perlu diketahui bahwa kapitalisme selalu saja menemukan kontradiksinya sendiri dalam sejarah corak produksi kapitalistik dan menyelesaikannya dengan mereproduksi dirinya sendiri dengan cara-cara yang tidak menyasar problem struktural entah itu dalam tradisi laissez-faire yang menyalahkan alam dan kodrat manusia sebagai penyebab dari terjadinya krisis atau resep ala Keynes dengan mantra full employment, intervensi pemerintah fiskal dan moneter dengan menyalahkan terlalu diserahkannya pada mekanisme pasar sehingga krisis dapat terjadi.. Kedua tradisi ini saling menggantikan sebagai solutif dalam menjawab krisis entah itu pada Depresi 1929 dan Stagflasi 1979. 

Atas penjelasan itu, seperti diketahui problem yang kita alami hari-hari ini yaitu problem struktural akibat masif dan dominannya corak produksi relasi upahan dalam sistem kapitalisme. Cara terbaik adalah memberikan solutif yang sifatnya struktural juga yaitu mengakhiri sistem kapitalisme. Tetapi penting dicatat, seperti yang dikatakan feminis asal Amerika Serikat, Audre Lorde, bahwa “Revolution is not a one time event”. Apa yang ingin disampaikan Lorde adalah teori dan gerakan revolusioner adalah suatu proses bukan sesuatu yang hadir seketika itu juga.

Dan gerakan yang lebih realistis hari ini adalah dengan memulainya dari gerakan-gerakan kecil seperti gerakan-gerakan kolektif dan gerakan solidaritas antar individu dan kelompok di tengah pandemi Covid-19 ini.*

Referensi

Ben Fine dan Alfredo Saad-Filho. (2004). Marx’s Capital (4th ed). London: Pluto Press.

Gerard Dumenil dan Duncan Foley. (2015). Analisa Marx atas Produksi Kapitalis. IndoPROGRESS. Tersedia di: https://issuu.com/indoprogress/docs/analisamarxatasproduksikapitalis-eb.

John Bellamy Foster. (2018). Marx Value and Nature. Monthly Review, 70(03). [https://monthlyreview.org/2018/07/01/marx-value-and-nature/#endnote-70-backlink].

John Hopkins University. (2020). Coronavirus COVID-19 Global Cases by the Center for Systems  Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University (JHU). Tersedia di: https://coronavirus.jhu.edu/map.html.  Diakses 1 Mei 2020.

Nadya Karimasari. (2016). Dalil Pokok Kapitalisme. Tersedia di: https://indoprogress.com/2016/02/dalil-pokok-kapitalisme/. Diakses 22 Mei 2020.

OECD. (2020). Coronavirus (COVID-19) Joint Actions to Win the War. Tersedia di: https://www.oecd.org/about/secretary-general/Coronavirus-COVID-19-Joint-actions-to-win-the-war.pdf. Diakses 24 April 2020.