Transformasi Kehidupan pada Peradaban Pandemi

Transformasi pada peradaban pandemi tidak hanya terjadi pada aspek sosial saja. Melainkan transformasi pada realitas psikis masyarakat juga terjadi.

MMIqbal-Berpijar

Peradaban pandemi, begitulah sebutan untuk kondisi peradaban manusia saat ini. Wabah Covid-19 telah menyerang berbagai penjuru bumi. Covid-19 telah menjadi wabah berskala global. Wabah ini menjadi problem bagi seluruh negara di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 menetapkan Covid 19 sebagai pandemi. Pandemi menjadi tahap terakhir atau tingkat tertinggi dari kehadiran suatu wabah.

Mula-mula suatu wabah akan berfase endemi, maknanya secara sederhana wabah ini masih menyebar pada suatu wilayah tertentu dan masih bisa diprediksi kehadirannya. Kemudian jika wabah tersebut telah menyebar ke beberapa wilayah sekitar, maka wabah tersebut telah masuk dalam fase epidemi. Jika wabah masih menyebar luas hingga berskala global maka wabah tersebut telah berfase pandemi. Fase pandemi inilah yang terjadi pada Covid-19.

Covid-19 bukanlah satu-satunya wabah yang telah hadir di bumi ini. Ada beberapa wabah yang pernah hadir di muka bumi yang menyerang kehidupan manusia. salah satunya yakni flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918 hingga 1920. Flu Spanyol juga dapat disebut flu 1918, karena kehadirannya pada tahun 1918. Flu Spanyol ini menyerang berbagai negara di dunia, salah satunya yakni Indonesia. Tercatat pada data dari Mortality From The Influenza Pandemic of 1918-19 in Indonesia menunjukkan bahwa flu Spanyol telah menewaskan setidaknya 4,26 hingga 4,37 juta penduduk Indonesia.

Berbagai wabah yang telah menyerang kehidupan manusia tentu saja akan mengubah tatanan kehidupan manusia. Begitupun yang terjadi pada peradaban pandemi Covid-19 saat ini. Kehadiran Covid-19 tampaknya telah mengubah berbagai tatanan sosial pada masyarakat. Indonesia yang menjadi salah satu negara yang terjangkit Covid-19 juga mengalami berbagai transformasi kehidupan di masyarakat. Tatanan kehidupan telah mengalami transformasi dalam berbagai aspek, Mulai dari sosial-budaya, gaya hidup, pendidikan, psikis dan media virtual telah mengalami transformasi di tengah masyarakat. Transformasi tersebut dapat terjadi dengan terencana maupun secara alamiah tumbuh dalam realitas masyarakat. Transformasi tersebut juga terjadi secara terpaksa maupun sukarela.

Transformasi pada aspek sosial-budaya dapat terlihat pada pola interaksi dalam realitas masyarakat ketika masa pandemi. Awal mulanya masyarakat berinteraksi sebagai mana mestinya seperti bertemu secara langsung tatap muka tanpa ada jarak. Interaksi semacam ini mengalami transformasi pada masa pandemi. Manusia pada masa pandemi lebih berinteraksi melalui dunia virtual. Tidak ada lagi perjumpaan secara langsung, kecuali kebutuhan yang sangat mendesak. Masyarakat lebih memilih melakukan kegiatan melalui dunia virtual guna mencegah kontak langsung dengan orang lain. Virtualisasi ini menjadi pilihan yang dianggap tepat untuk peradaban pandemi. Secara tidak langsung virtualisasi ini menjadi budaya baru maupun gaya hidup baru ditengah masa pandemi. 

Meskipun dunia virtual hadir sebelum pandemi, tetapi tidak dapat terelakkan bahwa virtualisasi ini semakin langgeng dan terlegitimasi oleh masyarakat sebagai suatu budaya populer Masyarakat semakin tergantung pada dunia virtual. Segala aktivitas dilakukan secara virtual, mulai dari berbelanja, bekerja, maupun mendapatkan pendidikan. Toko online semakin populer dan diminati pada masa pandemi. Berbagai kantor mempekerjakan pegawainya melalui dunia virtual di rumah masing-masing, hingga muncul slogan Work From Home. Begitupun yang terjadi pada dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan melakukan proses pendidikan secara virtual. Guru dan murid dipertemukan secara virtual. Forum-forum intelektual juga dilakukan secara virtual.

Transformasi pada peradaban pandemi tidak hanya terjadi pada aspek sosial saja. Melainkan transformasi pada realitas psikis masyarakat juga terjadi. Hadirnya pandemi Covid-19 memiliki dampak pada psikis masyarakat. Masyarakat mengalami kecemasan, kekhawatiran bahkan takut dengan hadirnya Covid 19. Masyarakat menjadi tidak tenang dalam menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Kecemasan masyarakat ini timbul karena informasi yang diserapnya setiap hari. Berbagai informasi yang begitu menyeramkan tersebar luas di media. Mulai dari media pemberitaan televisi hingga media sosial smartphone, seluruhnya memberitakan mengenai Covid 19. Jika informasi yang disebarkan bernilai positif seperti informasi kesembuhan, cara hidup sehat, dan lain sebagainya maka tidak ada masalah bagi masyarakat.

Justru yang menimbulkan ketakutan pada masyarakat ketika informasi yang disebarkan mengenai jumlah positif Covid 19 atau jumlah kematian karena Covid 19. Pemberitaan seperti ini sangat menyerang psikis masyarakat. Masyarakat malah semakin takut, cemas, atau khawatir. Oleh karena itu peran media sangat penting dalam peradaban pandemi. Media virtual harus bertransformasi menjadi psikiater bagi masyarakat. Informasi yang disebarkan media virtual harus didominasi oleh informasi yang bernilai positif. Sehingga kesadaran kognitif masyarakat tidak hanya dipenuhi angka-angka kematian yang berdampak negatif pada psikis masyarakat. Melainkan kesadaran kognitif masyarakat terbangun melalui informasi bernilai positif yang diserap dari media virtual.

Berbagai transformasi yang terjadi pada realitas di tengah masa pandemi. Transformasi-transformasi tersebut hadir sebagai respon atas hadirnya Covid-19 di tengah kehidupan manusia. Transformasi yang terjadi menjadi sebuah keniscayaan bagi manusia. Manusia tidak mampu untuk melarikan diri ataupun menolaknya. Jika manusia menolak, maka akan ada resiko-resiko yang siap menghantui masyarakat. Transformasi terjadi dapat berimplikasi pada sebuah pembangunan atas suatu peradaban. Transformasi kehidupan juga dapat menjadi sebuah keterpurukan bagi suatu peradaban. Semuanya ada dalam genggaman manusia. 

Manusia sebagai makhluk yang sadar tentu tidak akan tinggal diam melihat keberlangsungan suatu peradaban. Manusia itu dinamis, tidak stagnan layaknya benda mati. Perlu diketahui dalam sebuah mitologi Yunani menuturkan bahwa segala realitas yang berkecamuk dalam kehidupan manusia ini memiliki obat penyembuh. Obat penyembuh tersebut yakni “harapan” yang terkurung dalam sebuah kendi (Phytos) yang disimpan oleh Epimetheus. Oleh karena itu, janganlah sampai berhenti dan menyerah melihat keterbelengguan yang diciptakan peradaban pandemi. Masih ada harapan yang dapat diraih untuk memperbaiki segala keterbelengguan yang terjadi.*