Pandemi Corona Momentum ke Revolusi Industri 4.0: New Normal

New Normal pada akhirnya adalah awal dari lompatan besar Revolusi Industri 4.0. Siap atau tidak, manusia selalu berhasil beradaptasi sepanjang peradabannya.

alfian bahri-berpijar

Sejak WHO peringatkan bahwa virus corona mungkin tidak akan pernah hilang, sesungguhnya kehidupan manusia sedang menuju format baru (New Normal). Dengan adanya pandemi corona ini, hal itu telah dipersiapkan.

Pandemi corona memberi dampak dan perubahan yang luar biasa pada segala bidang (ekonomi, agama, politik, sosial, pendidikan, seni, dan budaya).  Semua bidang tersebut mengalami perubahan model, proses, pelaksanaan, hingga interaksinya. Hampir semua bidang kehidupan berpindah ke arah daring.

Dampak lain dari hal itu ialah bertambahnya pengangguran. Banyak pemberhentian hak kerja (PHK) yang dilakukan atas dasar ekonomi. Padahal, alasannya bukan itu semata. Lebih jauh, pengaruh Revolusi Industri Keempat begitu kuat atas keadaan ini.

Revolusi Industri Keempat ini mengintegrasikan antara teknologi cyber dan teknologi otomatisasi. Dampak atas penerapannya adalah tidak lagi memberdayakan tenaga kerja manusia, sebab semuanya sudah menerapkan konsep otomatisasi mesin dan logaritma.

Manusia adalah makhluk yang pandai beradaptasi. Singkatnya, tanpa disadari, 2014 merupakan awal dari perubahan besar dari peradaban manusia. Cara kita hidup, cara kerja, dan cara kita bermain, semua sudah bergeser ke arah virtual daring. Semua secara perlahan berpindah, berhubung, berintegritas, bersimulasi, berinteraksi, berjaringan, dan berubah ke arah dunia baru yang begitu luas, paradoks, dan kompleks (lihat media sosial dan platform digital lainnya).

Perubahan besar itulah yang dinamakan revolusi. Hadirnya media sosial dan platform digital lainnya memberikan efek besar kepada ekosistem dunia dan tata cara kehidupan. Untuk masuk ke dalam sana secara utuh dan menyeluruh, manusia membutuhkan momentum. Pada poin inilah saya katakan, pandemi corona itulah momentum tersebut.

Pandemi Corona Adalah Gerbang: New Normal

Banyak kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, kewaspadaan, dan kehati-hatian terhadap istilah New Normal itu sendiri. Hasilnya, konspirasi pun dibentuk. Wacana dicocokan. Data dikaitkan. Masa lalu dipugar. Masa depan diolah. Semua seakan bersatu dan ingin menolak sekaligus mengatakan betapa bahayanya New Normal itu. 

Entah karena takdir alam atau suatu ketetapan Tuhan, manusia sudah harus berada di tahapan berikutnya (Revolusi Industri Keempat). Kita bisa melihat di sekeliling kita selama pandemi corona. Segala aktivitas kita seakan digiring menuju virtualitas daring. Bukankah pandemi corona telah membuat segalanya berjalan dengan baru?

Dalam pendidikan, mungkin ini kali pertama pembelajaran sekolah dilakukan via daring. Di sektor administrasi juga. Agama, industri, sosial, seni, budaya, hiburan, dan terlebih ekonomi, semua dijalankan dengan daring.

Belum lagi, himbauan physical/social distancing, work from home, stay at home, PSBB, dsb, membuat kita mau tidak mau harus memindahkan tata cara  kehidupan lewat daring. Itu cukup menandakan bahwa sebenarnya pandemi corona memaksa masyarakat agar melakukan interaksi aktivitas secara virtual daring. Yang semuanya kita tahu bahwa hal tersebut merupakan ciri khas dari Revolusi Industri Keempat.

Dengan teknologi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Komputasi Kuantum, sangat memungkinkan segalanya terlaksana dengan baik dan tepat. Semua teknologi itu sudah ada dan dalam tahap penyempurnaan.

Saya tidak ingin mengatakan New Normal adalah konspirasi. Tetapi, saya tidak bisa memunafikkan bahwa New Normal itu sendiri adalah masa peralihan (gerbang) ke Revolusi Industri Keempat yang seutuhnya. Untuk memahami itu dengan damai, cobalah lihat di sekeliling kita sekarang, ada perubahan besar terjadi di segala sektor dan bidang. Manusia sedang berusaha beradaptasi seperti sebelum-sebelumnya.

David Savitri dalam bukunya Revolusi Industri 4.0 (Mengubah Tantangan Menjadi Peluang di Era Disrupsi 4.0), menyatakan bahwa Revolusi Industri Keempat mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan berkomunikasi. Revolusi Industri Keempat juga membentuk ulang (reshaping) sistem pemerintahan, sistem pendidikan, sistem pelayanan kesehatan, dan sistem perdagangan.

Dalam unggahan katadata.co.id di laman Instagramnya, Luhut: Pemerintah sudah susun protokol new normal sektor industri. Di sektor pendidikan juga telah melakukan persiapan. Sektor lainnya juga bakal turut serta. Karena bagaimanapun, manusia akan dipaksa menyesuaikan diri beserta sistemnya.

Kita tidak bisa mengingkari bahwa itu semua belum terjadi. Sebab kenyataannya, pandemi corona telah berhasil menggiring kita ke dalam sana. Secara perlahan, sekeliling kita telah berubah, telah berangsur beradaptasi. WHO sendiri telah menyerukan perdamaian dengan itu: corona mungkin tidak akan hilang. Itu berarti, kita harus menganggap virus corona sudah menjadi bagian dari kehidupan kita yang tidak mungkin dihilangkan.

Keadaan tersebut nyatanya tidak mungkin bisa ditampik. Bukti nyatanya, aktivitas di dunia digital selama pandemi corona meningkat pesat. Teknologi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things, dan Komputasi Kuantum yang menjadi kekuatan Revolusi Industri Keempat tanpa disadari telah memudahkan aktivitas baru (daring) tersebut. Pada dasarnya teknologi-teknologi tersebut memiliki kemampuan dalam menyambungkan dan memudahkan proses komunikasi antara mesin, perangkat, sensor, dan manusia. Itu yang sedang dipraktikkan sekarang.

New Normal pada akhirnya adalah awal dari lompatan besar Revolusi Industri Keempat  itu sendiri. Antara siap atau tidak, manusia selalu berhasil beradaptasi sepanjang peradabannya.

Menahtakan Bill Gates

Saya lebih suka mengatakan bahwa, orang sekelas dan serupa Bill Gates yang akan paling diuntungkan dari dampak dan akibat pandemi corona ini. Bukan karena produksi vaksin berupa microchip seperti pikiran konspirasi yang beredar beberapa waktu lalu. Melainkan karena New Normal itu sendiri.

Kita sama-sama tahu bahwa teknologi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things, dan Komputasi Kuantum merupakan teknologi yang sedang dimiliki dan dikembangkan Bill Gates beserta koleganya. Bukan bermaksud menyatakan konspirasi, hanya saja orang sekelas dan serupa Bill Gates bakal berperan besar dalam Revolusi Industri Keempat ini.*