Kekeliruan Feminisme Hari Ini

Sebagai ideologi wanita dia menjadi penggugah kesadaran, sebagai ideologi laki–laki dia menjadi ideologi cara penghormatan dan penghargaan.

berpijar-andyan

Men are not the enemy, but the fellow victims. The real enemy is women’s denigration of themselves.

Betty Friedan

Feminisme, tentu kita sudah tidak asing lagi kan mendengar kata tersebut. Memang, karena ideologi tersebut digadang–gadang sebagai jawaban atas ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang dialami wanita. Sederhananya, feminisme adalah gerakan sosial atas nama wanita yang menuntut haknya, yakni kesetaraan dalam segala aspek kehidupan baik sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan. Tetapi, apakah lantas ideologi ini ditelan mentah sebagai keyakinan suatu gerakan perempuan? Saya rasa itu yang perlu menjadi perhatian dan kehati–hatian kita.

Adanya sosial media juga turut mempopulerkan slogan–slogan atau pikiran–pikiran kaum feminis ini. Tapi, yang jadi soal adalah dimana mereka dengan mudah menjustifikasi segala sesuatu yang menyinggung kaum wanita dengan laki–laki itu buruk. 

Beberapa waktu yang lalu bahkan Prof. Ariel Heryanto dalam cuitannya mengomentari tweet yang diserang kaum feminis karena isinya kurang lebih membicarakan istri sibuk membuatkan bekal bagi suami. Ini dipermasalahkan karena dinilai ada unsur–unsur patriarki di dalamnya, masih mau saja disuruh–suruh, dan berbagai komentar lain dari kaum feminis. Nah, di sini yang kita harusnya jernih dalam berargumentasi dan berpikir.

Saya menilai “bias”, atau sebut saja kebingungan, yang dialami kaum feminis atau yang baru feminis ini harus diluruskan ulang. Adanya kategorisasi itu penting dan itu yang dilakukan para filsuf sebelum memahami dan mendefinisikan dunia dalam teori filsafatnya. Sebagai contoh, Immanuel Kant dengan 12 kategorinya, yakni ada benda singular, plural, dan universal. Tapi, kita tidak membahas filsafatnya Kant. Jadi, kembali pada bias tadi, bahwa seharusnya kaum feminis membedakan mana gender dan mana yang kodrat. 

Gender disini adalah konstruksi sosial dimana wanita itu harus bisa masak, membersihkan rumah, dandan, itulah konstruksi sosial yang dibangun masyarakat. Sementara kodrat itu sifatnya hukum alam. Wanita dilahirkan dengan kemampuan tubuhnya menstruasi, menyusui, dan melahirkan anak kalau ingin mempunyai anak. Pada ranah kodrat ini tidak bisa ditukar–tukar, berbeda dengan konstruksi sosial yang semua orang bisa melakukannya.

Tapi, hari ini slogan “Tubuhku, Otoritasku” itu juga dipertanyakan. Masih ada wanita yang rela merasa kesakitan demi mendapat label cantik versi industri kosmetik. Ada yang keluar uang puluhan juta untuk operasi, diet ketat, oplas, cabut bulu, dll. Ini semua kan juga kepentingan industri, jadi suksesnya industri kosmetik menjual feminitas sebagai komoditas ini tetap dinikmati? 

Feminisme versi Betty Friedan berbeda. Menurut Beliau, justru yang salah itu kaum wanitanya, bukan laki–laki. Ini tentu relevan melihat wanita masih banyak yang menikmati eksploitasi tubuhnya. Sebagai contoh, dalam iklan otomotif model yang dipajang adalah wanita, begitupun ketika promosi penjualan rokok. Menurut Friedan, seharusnya wanita lah yang sadar akan dirinya sendiri dan mengetahui dimana kebahagiaannya. 

Kalau menurut saya, feminisme hari ini itu sudah tidak relevan untuk menuntut kesetaraan karena kesetaraan itu sudah tersedia. Contohnya, banyak wanita memimpin perusahaan ataupun sistem pemerintahan. Beda halnya ketika abad pertengahan sampai 19 awal yang masih terjadinya perbudakan dan hierarki sosial yang sangat jelas. 

Hari ini bukan lagi soal equality, melainkan equity atau keadilan. Saya mengartikan keadilan itu berarti ada intervensi untuk menjaga agar kesetaraan itu berjalan ke depan tidak mandek. Tidak hanya slogan saja, tapi realitanya malah paradoks. Yakni, malah muncul ketidaksetaraan yang tidak disadari. 

Adanya kuota, misalnya, dalam parlemen yakni 20% bagi wanita, ini menunjukan adanya intervensi negara untuk menjaga kesetaraan itu berlanjut bukan? Analoginya begini, kenapa diperlukan keadilan, karena kesetaraan saja tidak cukup. Kesetaraan itu sama rata sementara porsi setiap manusia berbeda. Ada wanita yang memiliki kemampuan di bidang otomotif, mesin, ada laki–laki yang memiliki kemampuan di bidang administrasi dan kesekretariatan. Jadi, semua itu soal porsi, karena manusia indah pada porsinya. 

Bias–bias dalam feminisme inilah yang kemudian dipikirkan Betty Friedan dalam karyanya The Feminine Mystique. Feminisme bukan soal kebebasan berpakaian saja, kebebasan berperilaku saja, karena jika hanya sekedar itu tentu malah merendahkan gerakan feminisme. 

Malah menjadi suatu hal yang aneh jika seorang wanita mengaku feminis dengan seks bebas, tapi setelah terjadi kehamilan menuntut dinikahkan. Ini suatu kesalahan berpikir karena moral di Barat memang berbeda dengan Timur, jadi kalau mau meniru Barat ya harus total, setelah seks bebas, kalau hamil jangan menuntut dinikahkan karena di Barat moralnya seperti itu. 

Jadi, diskursus yang tersaji hanya olok–olok soal pakaian tertutup, debat soal boleh merokok dalam lingkungan masyarakat, tidak merdeka atau bagaimana. Bukan hanya itu, kesetaraan ada dalam pikiran secara intelektual, mendapat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dll. Kesetaraan dalam segala aspek dan ketika kesempatan untuk memperoleh itu semua harus ada alat yang dapat dipakai untuk kesetaraan tetap berjalan, yakni melalui instrumen keadilan yang dijamin oleh negara.

Jadi, feminisme bukan hanya ideologi kaum wanita melainkan juga harus dipahami oleh kaum laki–laki. Sebagai ideologi wanita dia menjadi penggugah kesadaran, sebagai ideologi laki–laki dia menjadi ideologi cara penghormatan dan penghargaan.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *