Ada yang Lebih Parah daripada Korupsi di Negeri Ini, Yakni Pendidikan

Begitulah keadaan pendidikan kita. Hampir semua orang dan pelaku pendidikan selalu mengambinghitamkan sistem dan kesejahteraan. Jarang ada yang mempermasalahkan penggerak pendidikan itu sendiri (guru).

dwialfian-berpijar-0916

Pandemi Corona sejak awal 2020 telah berhasil melumpuhkan banyak aspek kehidupan. Selain ekonomi yang paling merasakan imbasnya, pendidikan juga patut disorot lebih tajam. Selama pandemi, pendidikan tatap muka ditiadakan. Padatnya interaksi di sekolah dan ketakutan timbulnya klaster baru menjadi alasan utamanya. Para siswa dinilai belum terlalu mampu menjaga jarak fisik dan sosial mereka. Himbauan belajar di rumah lewat daring menjadi pilihan.

Agaknya, pilihan tersebut hanyalah keputusan yang spekulatif semata. Sejak diberlakukannya aturan belajar di rumah (daring), aduan dari para orang tua sudah mulai berdatangan. Mulai dari banyaknya tugas yang harus dikumpulkan, sampai susahnya pengoperasian daring, semua mengerucut menjadi satu persoalan. Yakni, pendidikan kita belum siap atas pembelajaran daring.

Gogot Suharwoto dari Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan, saat ini teknologi masih sulit masuk di ruang-ruang kelas untuk pembelajaran. Hal ini faktor utamanya adalah masih rendahnya kompetensi guru dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau dengan kata lain gagap teknologi (gaptek) (medcom.id)

Itu menjadi pernyataan yang sangat menohok bagi wajah pendidikan kita. Topeng yang selama ini tertutup, agaknya telah terbuka. Bagaimana tidak, di era Revolusi Industri 4.0 semacam ini, guru yang seharusnya berada di garda depan justru tumpul. Hasilnya, output pendidikan kita tidak pernah jalan sekalipun kurikulum dirombak berkali-kali.

Sekarang, semua negara terkena dampak pandemi. Semua aktivitas interaksi berpindah ke arah virtual daring. Pendidikan juga mengupayakan hal itu. Tetapi, berhubung dasar utamanya (guru) belum memadai untuk berpindah ke sana, pendidikan kita semakin menunjukkan wajah aslinya.

Fakta menarik lainnya, menurut kebanyakan orang, pembelajaran daring ini hanya sebatas foto-foto dan kirim-kirim tugas semata. Tidak ada metode baru yang ditawarkan para guru. Hasilnya, pendidikan menjadi monoton dengan pemberian soal-soal. Parahnya lagi, soal-soal tersebut sebenarnya bisa diselesaikan dengan mengetik kata kunci di mesin pencari google.

Guru seharusnya berperan besar dalam praktik pembelajaran daring. Tetapi, semua jauh dari harapan. Para guru  masih saja melakukan cara-cara lama: beri tugas, kumpulkan, nilai + swafoto. Ini kenyataan yang sedang kita hadapi.

Para guru masih saja berpikir How (bagaimana) ketimbang Why (mengapa) dalam metode pembelajarannya. Hasilnya, murid kita hanya bergerak seperti robot yang menghafalkan pola kerja sistem. Kondisi kemanusiaan hari ini adalah perenungan, bukan lagi gerakan.

Kalau kita urai dengan jujur, sebenarnya tidak ada perbedaan dari pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring. Bedanya, hanya pada ruang dan waktu pengerjaannya saja (di kelas dan di rumah). Selebihnya, tidak ada bedanya. Lalu pertanyaannya, bila pandemi ini berlangsung dalam waktu yang lama, bagaimana nasib pendidikan kita? Wacana bahwa pendidikan Indonesia tertinggal 125 tahun agaknya benar adanya.

Bisa dipastikan generasi penerus bangsa akan benar-benar hilang. Pendidikan yang diharapkan menjadi tiang tonggak kemajuan bangsa, nyatanya hanya memiliki instrumen (guru, kurikulum, dan manajemen) yang tumpul dan semrawut. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ada masalah yang lebih serius dibanding korupsi di negeri ini, yakni pendidikan. 

Ini memang masalah besar yang kompleks. Tapi bukan berarti tidak ada jalan keluar. Harapan selalu ada. Untuk mengatasinya, sudah seharusnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggunakan langkah yang revolusioner. Gonta-ganti kurikulum bukan lagi barang baru, dan itu tidak cukup. Dibutuhkan gebrakan yang benar-benar radikal. Kebijakannya harus mulai dari hal dasar sendiri (guru), baru membicarakan kurikulum, manajemen, dsb. Bagaimana bisa mendapat murid berkualitas bila gurunya juga tidak berkualitas? Bila tidak, bangsa ini akan semakin tertinggal jauh.

Saya hampir bertanya pada semua orang yang saya temui untuk diskusi. Rata-rata menilai pendidikan kita bermasalah pada aspek sistemnya dan kesejahteraan gurunya. Saya setuju, memang itu masalah yang tampak. Di luar dari itu (bukan bermaksud memisahkan), permasalahan kualitas guru perlu disoroti terlebih dahulu. Bagaimanapun, guru ialah penggerak pendidikan. Yang dinamakan penggerak ialah poros utamanya. Tapi, untuk melihat kualitas poros itu, hingga saat ini tidak ada kabar yang baik.

Pembaca bisa coba mengetik di mesin pencari atau mencari sumber literatur lainnya: “kualitas guru Indonesia”. Pembaca akan menemukan fakta yang menohok. Pada google, hampir tidak ditemukan wacana (tulisan dan berita) kualitas guru di Indonesia baik. Rerata nasional begitu kurang baik.

Kalau bisa dianalogikan, suatu ketika Anda ingin mengelas besi panjang agar bengkok. Saat ke tukang las, ternyata kualitas yang dimiliki tukang las tersebut kurang baik. Hasilnya, las-lasan tersebut kurang kuat, rapuh, dan patah. Lalu, dengan gampangnya tukang las tersebut menyimpulkan, alat las saya jelek atau mungkin besinya yang jelek sehingga hasil tidak maksimal. Padahal, fakta yang tidak bisa dihindari ialah, bahwa tukang las tersebut kualitasnya di bawah standar. Lalu, apa pantas bila Anda memberi upah yang minim terhadap tukang las tersebut?

Begitulah keadaan pendidikan kita. Hampir semua orang dan pelaku pendidikan selalu mengambinghitamkan sistem dan kesejahteraan. Jarang ada yang mempermasalahkan penggerak pendidikan itu sendiri (guru). Lalu pada akhirnya, murid yang akan menanggung beban ketidaksadaran diri ini. Guru harus mulai sadar atas masalah kualitasnya tersebut. Sebab, bagaimanapun sistem yang dijalankan, bila penggeraknya tumpul, sistem akan rusak dan tidak jalan.

Terlepas dari itu semua, saya hanya ingin mengatakan, meningkatkan kualitas itu adalah kewajiban dan kesejahteraan adalah hak. Manusia yang baik selalu menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu sebelum menuntut haknya. Hanya dengan itu esensi guru tanpa tanda jasa benar-benar bisa ditagih secara praktik dan kualitas.*