Pendidikan oleh Semua Bangsa

Kalau ada sebuah buku pelajaran di meja rumah, apa kira-kira yang akan pertama kali orang-orang tua lakukan? Menjadi sebuah pertanyaan penting bagi orang tua murid untuk dijawab dengan penuh kebijaksanaan.

resza-mustafa-berpijar

“Bangunlah hati merdeka sebagai manusia!” demikian jelas tertera di brosur pembukaan saat diadakan pendaftaran terbuka SI School. Sejarah pendidikan Indonesia dimulai sejak Tan Malaka mewujudkan perjuangan melalui pendirian sebuah lembaga pendidikan, bernama Sarekat Islam (SI) School di Semarang pada 1921. Bertujuan untuk meniti jalan kebebasan berpendapat bagi semua anak bangsa tanpa terkecuali.

Tan Malaka dalam mengelola SI School menggunakan cara yang santai namun tetap terukur—tetap mengingatkan para murid dengan lingkungan sekitar dan tidak terbebani jam pelajaran—disertai tambahan materi pengetahuan berhitung, menulis, ilmu bumi, juga bahasa Belanda. Kemahiran berbahasa Belanda, diutamakan dalam pembelajaran mengingat pentingnya pengetahuan tersebut bagi para murid agar tidak tertinggal dengan murid dari sekolah formal yang sudah ada, dan tidak terbatasi dalam ranah pergaulan. 

Sedemikian pentingnya penguasaan bahasa Belanda pada zaman tersebut juga tertampak pada lain sosok, yang juga masih seorang pimpinan Sarekat Islam. Haji Agus Salim, mendidik langsung anak-anaknya di rumah dengan cara berbeda. Menurut Moehammad Roem, Agus Salim memberikan pendidikan kepada anak-anaknya yang tidak sekolah di sekolah formal, tetapi pandai berbahasa Belanda. 

Keberadaan SI School beserta seluruh cita-citanya, jadi sebuah penanda arah baru pendidikan di bumi Indonesia. Ditunjang dengan berdirinya Taman Siswa pada 1922 oleh Ki Hajar Dewantara, yang memiliki tujuan inti untuk mendekatkan para siswa kepada budaya lokal dengan ciri metode pendidikan yang menyenangkan.

Dutch Culture Overseas, catatan penghitungan Frances Souda, menampilkan data sampai pada tahun 1932 Taman Siswa berhasil mendirikan 166 sekolah dengan perkiraan jumlah murid 11.000 orang di seluruh Jawa. Keadaan lemahnya perekonomian dunia pasca Perang Dunia Pertama sedikit banyak juga berpengaruh terhadap subsidi pemerintah Hindia Belanda di ranah pendidikan. 

Kalau ada sebuah buku pelajaran di meja rumah, apa kira-kira yang akan pertama kali orang-orang tua lakukan? Menjadi sebuah pertanyaan penting bagi orang tua murid untuk dijawab dengan penuh kebijaksanaan. Sampai sejauh ini, konsep pendidikan Indonesia adalah metode “kurikulum” yang disajikan melalui buku-buku panduan dan buku-buku ajar di kelas.

Penerapan metode kurikulum sendiri menuai puncak pro dan kontra di kalangan masyarakat ketika muncul metode pembelajaran baru, kurikulum 2013. Banyak anggapan guru hanya dijadikan subjek pelaksana teknis operator bagi sistem pembelajaran yang teratur, terjadwal, sistematis, utamanya; menghabiskan banyak waktu. Tuntutan mengajar selama 24 jam seminggu, malah jadi faktor utama kerasnya penolakan penerapan metode kurikulum 2013 dari para guru, karena dipaksa kerja ekstra.

Memang dalam beberapa kondisi, hal ini memiliki andil, murid diminta membaca. Tetapi, apakah semua murid bisa mendapatkan pengetahuan yang sama selepas pulang dari sekolah? Mengerjakan tugas sesuai koridor-koridor, ketetapan dari guru untuk belajar dengan cara yang sama pula? 

Wacana metode pendidikan di Indonesia selalu saja mengemuka, kian waktu terus berubah. Terlebih setelah masuknya penerapan Tataran Normal Baru di masa pandemi Covid-19. Demi mengiringi kondisi yang ada, dan tuntutan perubahan zaman. Metode coba diubah, kelas diberi standar baru untuk memperkenalkan teknologi kepada para pelajar agar lebih mengenal penggunaan teknologi.

Aturan membawa ponsel saat pelajaran berlangsung mulai sedikit dibebaskan, beradaptasi dengan dunia digital. Tatap muka jarak jauh diberlakukan beberapa lembaga dan instansi pendidikan, lewat kelas daring (online) menyesuaikan status zona daerah masing-masing. Sistem, konsep, metode terus berubah, tapi kualitas individu para pelajar hasil instansi pendidikan tetap masih perlu dipertanyakan.

Melalui media sebuah novel, dahulu, seorang profesor dari Belgia pada abad ke-19 bernama Joseph Jacotot menempa diri untuk belajar bahasa Perancis bersama-sama dengan para mahasiswanya. Bisa dikatakan dalam tanda kutip, “bersama-sama belajar” yang memang saat itu, Jacotot kebetulan belum punya pengetahuan apapun mengenai bahasa Perancis. Ini merupakan sebuah tuntutan umum bagi seorang pengajar, terhadap sebuah aturan; harus bisa mengajarkan apapun lantaran belum ada pembagian ilmu secara spesifik.

Jacotot menggunakan metode repetisi. Pola pengulangan bentuk atau unsur (kata) di dalam kalimat. Repetisi, berfungsi memperjelas hubungan bentuk antar-bagian wacana. Lebih spesifik diterangkan Mulyana pada “Kajian Wacana”.

Penggunaan berbagai macam cara seperti melihat, mendengar, menulis, dan seterusnya. Berkenalan dengan unit-unit pengetahuan bahasa Perancis berwujud visual sebuah novel, yang dipelajari secara tuntas soal bagaimana bahasa itu dituliskan, lalu belajar cara membaca, sampai membuka forum diskusi bersama. Dua semester metode berjalan, Jacotot dan para mahasiswanya telah mahir berbahasa Perancis. 

Alternatif sajian Joseph Jacotot jadi momen cikal bakal munculnya gagasan radikal dari ilmuwan Perancis, Jacques Ranciere dalam The Ignorant Schoolmaster yang memberi batas persyaratan kondisi setara sebagai prakondisi sebelum melaksanakan aktivitas pendidikan. Mendobrak secara gamblang pedagogi yang memposisikan; pribadi tahu tentang ilmu pengetahuan, dengan pribadi sebagai pelajar yang belum tahu tentang ilmu pengetahuan. Hingga secara absolut tercipta transmisi pendidikan antar pelajar.

Sementara sisi lain dari metode pendidikan, memunculkan pula Debunking The Shanghai Secret, tulisan Quanyu Huang yang memberikan perbandingan antara sistem pendidikan di Amerika Serikat dan Tiongkok. Dilansir dari ziliun.com, tepatnya pada akhir dekade 1970-an, Amerika Serikat dan Tiongkok saling membandingkan metode pendidikan negaranya masing-masing. Anak-anak Tiongkok disebut the most diligent in the world karena memilih giat mempelajari disiplin ilmu pengetahuan, tetapi anak-anak Amerika Serikat malah cenderung memilih metode sick beyond treatment, bebas belajar apapun tentang ilmu pengetahuan.

Tagore, menemukan dirinya ternyata sangat ketakutan ketika belajar. Sebab itu, tercipta Visvha Bharati di Shantiniketan, menghadirkan suasana kelas penuh kebebasan. Karenanya pula, tiada ayal muncul sebuah paradigma idealis dalam kelas yang dihadirkan Soe Hok Gie bahwa murid bukan kerbau, sedang guru tidak melulu identik sebagai sosok absolut jelmaan dewa.*